Kamis, 14 Oktober 2010

[FF] TAK BIASA





“Bu Dok…” wajah tirus anak lelaki itu muncul di balik pintu

“hai Ayis, mau???? “ kukeluarkan setoples manisan, Ayis menggeleng

“manisan khas daerah ibu iyo ?, kalau torang rata-rata suka pedis” 


“kok tidak pedis rasanya?”aku tersenyum, di hari pertamaku, Ayis anak pertama yang menjumpaiku.

“Ayis, di sini ada kamar kecil?”

“kamar di kampung ini kecil semua” jawabnya polos

“maksudku toilet” Ayis memandangku heran

“WC???” keningnya berkerut, aku pun membisikkan sesuatu

“ooohhhhh…itu!!! Disitu!!!” ditunjuknya sungai di belakang rumah,

Oh no, kuurungkan niatku.

 *********

Akhirnya bisa juga warga di sini menyelesaikannya dalam sehari

Kujelaskan manfaat  MCK ini, bapak ibu anak-anak antusias mendengarkan

 “bu dok, Ayis  mau….” Ucapnya bersegera keluar

Setengah jam tak ada tanda-tanda Ayis kembali

“Ayis…” kuketuk pintu WC, pintunya tak terkunci, aku melongo

WC kosong itu membuat senyumku mengembang

**********


Photobucket




Tulisan ini dibuat untuk Flash Fiction Contest dalam rangka memeriahkan Pesta Blogger 2010.

Tema       : Hidup dalam keberagaman

Subtema : anak

********

Ket : 

Torang = kami

 Pedis = pedas

Rabu, 13 Oktober 2010

Bingkisan Untuk Aisyah

Pada sore yang cerah di sebuah rumah kardus berukuran 4 x 4 m, di antara kumpulan rumah kumuh, "ibu,,,Aisyah ingiiiinnn sekali lebaran kali ini punya baju baru,,," Aisyah menyahut sambil membersihkan lantai yang tadinya kotor dengan sampah-sampah hasil memulung. Ibu duduk menyandarkan punggungnya di dinding rumah yang hampir roboh itu, sambil tersenyum "insyaAllah Aisyah, doakan ibu dapet rezeki lebih banyak lagi biar bisa belikan kau dan abangmu baju baru di hari lebaran nanti". Mata bening Aisyah berbinar, dengan semangatnya dia mendekati ibunya "Aisyah pijitin ya Bu,,,biar Ibu nggak pegal-pegal lagi", Ibu hanya tersenyum. Tak lama, Fatih pun datang membawa tiga bungkus nasi "untuk berbuka bu..." sahut Fatih, "Abang...insyaAllah kita akan dibelikan baju baru oleh ibu, kita nggak akan pakai baju lama lagi nanti. Aufa, tetangga kita udah punya lho bang,," sela anak gadis berumur tujuh tahun itu dengan semangatnya. Fatih hanya tersenyum, "amiin de".

********

Tiga hari sudah ibu jatuh sakit, batuk yang sedari dulu dialaminya kini semakin membuat ibu kesulitan beraktifitas, dengan sedih Aisyah menemani sang ibu yang terkulai lemah di tempat tidurnya. "Maafkan ibu Aisyah, sudah merepotkanmu, daann....." kata ibu terpotong, Aisyah mendehem "Ibu, tak apa...jangan terlalu dipikirkan, baju Aisyah masih bagus kok, masih layak pakai, yang terpenting sekarang adalah ibu sembuh" air mata tak terasa menetes di pipi Aisyah. Tak lama, Aisyah memandang abangnya, yang mungkin kalau sekolah sudah kelas dua smp. "Abang...besok Aisyah ingin pergi memulung,," Fatih yang sedari tadi duduk di dekat pintu memandang adiknya "Aisyah di sini saja, temani ibu, Abang bisa kok nyari sendiri, insyaAllah akan tetap ada baju baru buatmu Aisyah". Aisyah hanya terdiam "Aisyah tak berharap lebih, kesembuhan ibu lebih penting" ujarnya.

********

Siang hari di rumah kumuh, Fatih menghitung penghasilan yang didapatkannya hari ini, "lumayan juga, kalau ditambah dengan hasil tabunganku pasti sudah mencukupi untuk baju baru dan obat ibu" ucapnya dalam hati. Sebuah celengan dari bambu yang dibuatnya dulu, dibelah, koin-koin dan beberapa uang kertas tersimpan di dalamnya. Dipandanginya Aisyah dan ibunya yang sedang tertidur pulas, lalu Fatih tersenyum. Tak lama, fatih pun pergi.

********

Fatih mengitari pasar sore, pandangannya tak lepas dari pakaian anak gadis yang seumuran adiknya Aisyah, mencoba mencocokkan harga dengan uang yang ada di kantongnya "baju sekarang sudah pada mahal-mahal" gerutunya, terbayang wajah Aisyah yang tersenyum bahagia mendapatkan baju baru dari Fatih. Hari sudah sore, dengan tergesa-gesa Fatih meninggalkan sebuah toko buku "Al-Fikri" menuju apotik membeli obat untuk ibunya, kemudian singgah sebentar di warung lesehan membeli makanan untuk berbuka nanti. "kali ini, nggak apa-apa deh makan enak" ucapnya dalam hati. Fatih pun berlalu dengan senyum, terbayang wajah Aisyah yang pasti bahagia dengan bingkisan darinya, terbayang wajah ibunya yang sering sakit-sakitan. Dalam perjalanan pulang, Fatih selalu berucap dalam hati "untukmu ibu, semoga kau sehat, untukmu Aisyah, semoga Mushaf baru ini membuatmu jadi anak yang sholehah, maaf tak membelikanmu baju baru, Mushaf lebih penting untukmu adikku".

********

Aisyah setia menanti di dekat pintu, dia bahagia sekali sore ini karena abangnya akan kembali dengan sebuah baju baru, tersenyum membayangkan tubuhnya yang akan terbalut busana muslim pemberian kakaknya. Waktu terus berlalu, "Ibuuuu...sudah mau Maghrib, abang belum pulang juga" nampak wajah cemas Aisyah, wajah yang tadinya ceria menunggu kedatangan abangnya pulang kini berubah menjadi cemas. "banyak yang harus dicari abang, Aisyah, jadi bersabarlah" Ibu menenangkan Aisyah, menyembunyikan kecemasan yang juga mulai bergelayut di hatinya. "tak biasanya Fatih begini, ya Allah lindungi putraku" doa ibu.

--------------

Suasana masih subuh, namun penjaja koran sudah siap dengan aksinya di jalanan yang sudah mulai ramai, "koran..koran..banyak berita menarik, ayo-ayo dibeli...". Di koran itu, di salah satu beritanya tertulis Seorang Remaja tewas tertabrak mobil. Dalam gambarnya, di sekitar remaja tewas, obat-obatan, makanan dan sebuah mushaf berserakan di jalan raya...

####

Suwawa, 04092010

Irosa

Senin, 11 Oktober 2010

Gadis Feminim Itu...

Lagi-lagi aku jumpai gadis itu, dan masih tetap dengan busananya yang menurutku sangat minim, kaos ketat tangan panjang, dan celana jeans yang ketat juga, rambut dibiarkan terurai, dengan gincu yang menurutku sudah sangat menor. "hei kau, kenapa menatapku seperti itu!!!" gadis itu memelototiku, ups rupanya aku terlalu lama memandangnya, aku beristighfar dan segera berlalu. "hei kau, sialannnn!!!".

"Namanya Annisa, adik tingkat kita, denger-denger dia itu punya genk cewe di kampus ini dan yang parahnya lagi, dia ketua genk tersebut" jelas Andi. Aku manggut-manggut, "kasian ya gadis seperti itu" ujarku lirih, "kenapa seh kau sibukkan dirimu hanya untuk mengurus gadis itu, daripada ngurusin dia, yuuk kita ke mushola, dah mau Dzuhur". Aku dan Andi pun meninggalkan perpustakaan. Dalam perjalanan ke Mushola, gadis itu terlihat lagi, kali ini bersama gadis-gadis lainnya, tertawa cekikikan dan astaga...apa yang dipegangnya itu, sebungkus rokok. "Naudzubillah" gumamku. "Heiii...Ustad..ustad" suara gadis itu terdengar sedikit merdu, aku dan Andi mempercepat langkahku, berusaha untuk menghiraukan panggilannya yang terkesan menggoda itu. "Mau rokok tidak ? hahahaha" ujarnya sambil tertawa disambut tawa teman-temannya yang lain, kami tetap berlalu secepatnya menuju mushola, Azan Dzuhur sudah berkumandang.

*******

Alhamdulillah, baru aja selesai sholat Lail, kuraih mushaf dan kulanjutkan dengan mengaji, sebelumnya kulirik jam sudah menunjukkan pukul 03.30 malam. Suaraku memecah kesunyian malam itu, "Tolooong..toloooong !!!!!! buka pintunya !!!!" aku terkejut, seseorang menggedor-gedor pintu kamar kosku, suara seorang gadis, "tolooong...buka pintunya, saya mau diperkosa, toloooong!!!!!", aku panik, apa yang harus aku lakukan, gadis itu terus menerus menggedor pintu, kedengarannya dia sangat ketakutan sekali. "toloooonggg..." suara itu mulai lirih kudengar, aku beranikan membuka pintuku, gadis itu langsung melaju masuk ke dalam kamarku. "Astaghfirullah!!!" seruku, gadis itu, pakaiannya sudah tak utuh lagi, penampilannya sangat feminim, roknya pun sangat pendek, "ya Allah.." aku kebingungan, "tolong aku, sembunyikan aku di sini, dia...dia mengejarku!" pinta gadis itu, bau alkohol tercium dari mulutnya, dia nampak sangat ketakutan. "Baiklah..baiklah" aku mencoba menenangkannya, sesaat kami saling bertatapan..gadis itu..gadis itu sepertinya kukenal...dia pun mengerutkan dahinya, ada mimik keterkejutan saat melihatku, pertanda dia pun mengenalku. "aku telpon mbak Nadia dulu di kostan cewe, kau tunggu di sini saja" ucapku sambil mengambil handphone dan berlalu keluar dari kamar.

*******

Tujuh tahun kemudian...

Rasanya belum lama ku tertidur, harus bangun lagi, semalaman aku bekerja menyelesaikan tulisanku, sepertinya secangkir kopi akan menyegarkanku, aku hendak keluar tapi seorang wanita mencegatku di pintu kamar, wanita berambut panjang dengan daster panjang menutupi tubuhnya, aku sempat terkesima dan lagi-lagi "heiii, kenapa menatapku seperti itu, sudah waktunya mengantar Faqih ke sekolah, ingat sudah janji mengantarnya kali ini" serunya. Oh aku lupa, segera ku berlalu ke kamar mandi, "minum kopinya dulu" wanita itu tersenyum, dan Faqih sudah menantiku sejak tadi. Kuraih kunci motor jaket, sebelum pergi masih kupandangi wanita di teras rumahku, kali ini dia mengenakan jilbabnya, kubalas lambaian tangannya, Annisa, istriku.

----------

Suwawa, 29082010

Irosa