Dua hari lalu tepatnya hari Senin, 31 Mei 2010 kapal perang Israel dan tentara Israel menyerang kapal Mavi Marmara yang didalamnya terdapat aktivis relawan termasuk 12 orang Warga Negara Indonesia yang berasal dari tiga elemen berbeda yang tentu saja punya niat ikhlas untuk membantu rakyat Palestina di Gaza, membuka blokade Israel sehingga mendapatkan akses untuk kehidupan mereka.
Sungguh sangat menyedihkan dan kemudian menyulut kemarahan siapa saja yang mendengar dan menyaksikan berita tersebut karena akibat dari penyerangan itu puluhan aktivis tewas dan puluhan lainnya luka-luka, tak terkecuali diriku yang tetap setia menunggu perkembangan terbaru dari kejadian ini.
Luapan kemarahan di berbagai negara tak terpungkiri lagi, demo di sana sini, mengecam kebrutalan tentara Israel. Berbagai reaksi diperlihatkan, ada beberapa negara yang langsung memutuskan hubungan diplomatiknya dengan Israel, ada juga yang hanya menyatakan penyesalan terhadap kejadian tersebut, dan berbagai reaksi lainnya baik yang tegas ataupun yang masih malu-malu kucing.
Sungguh pun berbagai reaksi terjadi, tapi aku yakin mereka para aktivis itu sudah siap untuk syahid, mereka pasti telah mempersiapkan diri mereka sebaik mungkin untuk menghadapi kemungkinan terburuk (mungkinkah Syahid jadi kemungkinan terburuk ?? atau malah sebaliknya ???). Jangankan hanya untuk menghadapi penyerangan itu di kapal, tentunya setelah sampai di daratan Gaza, mereka akan dihadapkan dengan hal-hal yang lebih berat dari sekedar penyerangan di kapal (yang mungkin saja tak pernah mereka duga sebelumnya).
Di Gaza...para aktivis (relawan) pastinya akan sering berhadapan dengan senjata api, telinga mereka akan terbiasa dengan dentuman bom, mata mereka akan terbiasa dengan pemandangan yang menyedihkan, kematian ada dimana-mana, tangisan mungkin juga akan mereka dengar walaupun aku yakin tak akan sering karena aku pun yakin mereka (rakyat Gaza) pasti sudah siap untuk menjadi Syahid.
Aku pun yakin...keluarga yang para aktivis tinggalkan sudah siap dengan kemungkinan-kemungkinan di atas, karena mestinya mereka (para aktivis itu) sudah mempersiapkan keluarga mereka dengan bekal ikhlas dan tawakal kalau-kalau sesuatu terjadi pada mereka.
Aku pun berharap, insyaAllah para aktivis itu benar-benar ikhlas niatnya sehingga tak perlu ada pertanyaan " mengapa para aktivis mau dikeluarkan dari penjara? " " mengapa mereka mau dideportasi dari Israel ? Bukankah tujuan mereka kesana adalah untuk memasuki wilayah Israel ? Lalu dimanakah letak perjuangan para aktivis itu sementara sudah ada beberapa nyawa yang jadi korban ?? " Aku berharap pertanyaan-pertanyaan itu hanya sekedar pertanyaan saja, karena aku masih yakin...mereka telah siap untuk Syahid.
Wallahua'lam
*kutulis di saat kumerasakan kegelisahan seorang istri yang menantikan suaminya nun jauh di sana*
Sungguh sangat menyedihkan dan kemudian menyulut kemarahan siapa saja yang mendengar dan menyaksikan berita tersebut karena akibat dari penyerangan itu puluhan aktivis tewas dan puluhan lainnya luka-luka, tak terkecuali diriku yang tetap setia menunggu perkembangan terbaru dari kejadian ini.
Luapan kemarahan di berbagai negara tak terpungkiri lagi, demo di sana sini, mengecam kebrutalan tentara Israel. Berbagai reaksi diperlihatkan, ada beberapa negara yang langsung memutuskan hubungan diplomatiknya dengan Israel, ada juga yang hanya menyatakan penyesalan terhadap kejadian tersebut, dan berbagai reaksi lainnya baik yang tegas ataupun yang masih malu-malu kucing.
Sungguh pun berbagai reaksi terjadi, tapi aku yakin mereka para aktivis itu sudah siap untuk syahid, mereka pasti telah mempersiapkan diri mereka sebaik mungkin untuk menghadapi kemungkinan terburuk (mungkinkah Syahid jadi kemungkinan terburuk ?? atau malah sebaliknya ???). Jangankan hanya untuk menghadapi penyerangan itu di kapal, tentunya setelah sampai di daratan Gaza, mereka akan dihadapkan dengan hal-hal yang lebih berat dari sekedar penyerangan di kapal (yang mungkin saja tak pernah mereka duga sebelumnya).
Di Gaza...para aktivis (relawan) pastinya akan sering berhadapan dengan senjata api, telinga mereka akan terbiasa dengan dentuman bom, mata mereka akan terbiasa dengan pemandangan yang menyedihkan, kematian ada dimana-mana, tangisan mungkin juga akan mereka dengar walaupun aku yakin tak akan sering karena aku pun yakin mereka (rakyat Gaza) pasti sudah siap untuk menjadi Syahid.
Aku pun yakin...keluarga yang para aktivis tinggalkan sudah siap dengan kemungkinan-kemungkinan di atas, karena mestinya mereka (para aktivis itu) sudah mempersiapkan keluarga mereka dengan bekal ikhlas dan tawakal kalau-kalau sesuatu terjadi pada mereka.
Aku pun berharap, insyaAllah para aktivis itu benar-benar ikhlas niatnya sehingga tak perlu ada pertanyaan " mengapa para aktivis mau dikeluarkan dari penjara? " " mengapa mereka mau dideportasi dari Israel ? Bukankah tujuan mereka kesana adalah untuk memasuki wilayah Israel ? Lalu dimanakah letak perjuangan para aktivis itu sementara sudah ada beberapa nyawa yang jadi korban ?? " Aku berharap pertanyaan-pertanyaan itu hanya sekedar pertanyaan saja, karena aku masih yakin...mereka telah siap untuk Syahid.
Wallahua'lam
*kutulis di saat kumerasakan kegelisahan seorang istri yang menantikan suaminya nun jauh di sana*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar