Jumat, 27 Agustus 2010

Siapa Yang Kau sebut Cinta

Tet..tet..tet...Handphone Nabil berdering, pertanda ada sms yang masuk. Zulfa yang sedang dalam kamar, meraih hp itu, berniat akan menyerahkannya pada Nabil suaminya. Langkahnya terhenti sejenak, tertulis di layar Hp --sms dari Adinda--. "Siapa ya?" tanyanya dalam hati. Nabil segera menerima Hp itu setelah Zulfa memberitahukan ada sms yang masuk. Nabil segera menelepon, "Aku lagi siap-siap neh, kau tunggu saja di tempat biasa oke", Nabil menutup pembicaraannya dengan senyuman, pergi meninggalkan Zulfa yang menyimpan tanya dalam hati.

-------------------------

Tet..tet..tet...Handphone itu berbunyi lagi, lagi-lagi sms dari Adinda, "siapa seh?"pikirannya berkecamuk. Dan lagi-lagi, Nabil begitu girang saat membaca sms itu, bersegera berpakaian rapi dan meninggalkan Zulfa satu kecupan di kening dengan senyum tersungging "Abi pergi dulu ya Mi, ada urusan penting, mungkin agak lama pulangnya" Zulfa membalas senyum itu walaupun dengan terpaksa karena masih tetap menyimpan tanya dalam hati "oh ya...kalau sampai jam dua sore Abi tak pulang, pergi ke pasarnya sama adikmu aja ya, Abi sudah hubungi dia tadi"..."lama dong pulangnya Bi, tapi masih berbuka di sini kan?" tanya Zulfa, Nabil tersenyum, kali ini terlihat begitu tulus "pasti dong Mi" dan Nabil pun berlalu dari hadapannya.

------------------------

Telepon berdering lagi, kali ini telepon dari Adinda, Nabil yang langsung mengangkatnya, terlihat serius pembicaraannya, "Pasti dong, semua demi cinta" tutup Nabil mengakhiri pembicaraan di telepon. "Apa? apa aku tak salah dengar dengan apa yang mas Nabil katakan terakhir, rasanya begitu jelas, nggak mungkin salah dengar" Zulfa mulai merasa tidak nyaman dengan sms dan telepon dari wanita misterius bernama Adinda itu. Malam ini, dia berniat menanyakannya pada mas Nabil, tapi ternyata suaminya mempercepat tidurnya.

-----------------------

"Pagi ini, pasti si Adinda sms atau telepon lagi" pikir Zulfa, diliriknya Nabil yang sedang menyantap sahur dengan lahap, melempar senyuman kala mereka bertemu pandang. Dan ternyata betul dugaan Zulfa, Handphone Nabil berdering lagi, kali ini Zulfa yang mengangkatnya "Assalamu'alaikum, ini siapa ya dan ada perlu apa?? tukas Zulfa, "emm..saya bisa bicara dengan mas Nabil?"jawab suara yang di seberang, Zulfa menyerahkan handphone pada Nabil yang sudah menunggu dengan senyum di sampingnya.

----------------------

-Jadi gimana mas Nabil, suka nggak yang kemaren itu?- Zulfa bergetar membaca sms itu, dia memberanikan diri membaca sms yang ada di handphone mas Nabil,  -kayaknya aku sudah merasa cocok, nanti kita tuntaskan besok- sms mas Nabil pada wanita itu, -nggak nyesel neh???- percakapan di sms itu diakhiri mas Nabil -Kalau Cinta, nggak mungkin nyesel dong :)-, Zulfa tak mampu menahan badannya lagi, dia terduduk di samping tempat tidur, Nabil nampak pulas dalam tidurnya.

---------------------

Zulfa masih terpaku di depan pesawat telepon rumahnya, hatinya campur aduk, Nabil sudah pergi pagi-pagi sekali, lagi-lagi dengan senyum yang paling manis sedunia, meninggalkannya dengan kecupan di kening yang dirasanya hambar. "aku harus kuat" katanya menenangkan diri, dalam genggamannya sudah ada kertas bertuliskan nomor Adinda itu. Air mata menetes di pipinya, tak mampu menahan sedih, mantap menekan angka di pesawat teleponnya. "Halo, selamat pagi, Perumahan Bukit Zaitun Permai, ada yang bisa kami bantu?" Zulfa terdiam, tak mampu berkata-kata lagi.

---------------------

Di tempat lain, Nabil dan Adinda sedang berada di depan sebuah bangunan mewah yang terlihat minimalis, "tepat sekali pilihanmu Dinda, aku yakin istriku pasti akan menyukai rumah pilihanmu ini" sahut Nabil puas, "yah, walaupun mahal dan hampir menguras isi tabungan anda pak Nabil" sambung Adinda, "Tak masalah, demi Cinta, karena aku sangat mencintai Zulfa istriku" senyum Nabil, "besok Abi kan beri kejutan di Milad pernikahan kita Ummi, Abi ingin kembali melihat senyummu"

**************

Gorontalo, 26082010

Irosa

#Berharap dapat hadiah rumah di Milad pernikahanku yang ke empat tgl 09 September nanti, biar boo depe gambar dulu hehehehe#

Sabtu, 14 Agustus 2010

"Transit" Di Rumah Mertua

Enam hari "transit" di rumah Mertua, sungguh sangat mengesankan buatku, semua hari-hariku ingin kubuat mengesankan selalu, enjoy dengan semua yang aku alami, ini aku dan hidupku ^_^


Sederhana, itulah kesan yang selama ini aku rasakan jika berinteraksi dengan keluarga suamiku apalagi tinggal di dalamnya, tidak ada yang berlebihan karena memang tak ada yang bisa dilebih-lebihkan...

Mertuaku, papa Mantu hanyalah petani kebun yang di sela-sela aktifitasnya itu, beliau juga imam di Masjid ujung kampung, mama Mantu juga hanya ibu rumah tangga yang turut membantu suaminya bekerja di kebun, tentu saja mereka tak mengenyam pendidikan setinggi yang kita rasakan, tapi bagiku mereka sudah berhasil mendidik anak-anaknya, membentuk karakter yang baik pada anak-anaknya, menjadikan mereka mandiri dan tangguh.

Selama aku berada di sini, banyak yang berkesan, suamiku bersaudara berkumpul bersama, wow, ceria sekali, sungguh terbangun komunikasi yang sehat antara mereka semuanya, suamiku satu-satunya anak yang PNS, selebihnya tidak tapi mereka adalah anak-anak yang mandiri..

Ramadhan, memang mempererat persaudaraan, terbukti selama aku di kampung, wara wiri ke syukuran keluarga, baik syukuran ipar-iparku, tante-tante dan om-om suamiku (wah jadi iri melihat udah kakek nenek tapi persaudaraannya kental banget, aku pun berharap begitu dengan adik-adikku, amin)

Aku bersyukur jadi bagian dari mereka

Mendono, 11082010

Irosa

Penantian Di Ujung Asa

"Hadi, kau dipanggil sama pak Danu...Ada yang penting katanya!" Seru Baim teman sekamar Hadi dalam kapal tempat mereka bekerja..

Hadi pun pergi, pikirannya tak lagi konsen pada pekerjaannya, "besok, tiba di darat, aku akan menelepon Aida, aku akan pulang memenuhi janjiku untuk berlebaran bersama" senyum tersungging di bibirnya, akhirnya...Setelah dua kali lebaran tak bersama istri dan anak, kali ini, niatannya terkabul. Terbayang sudah lesung pipit Aida dengan senyum manisnya, Azzam yang lagi lucu-lucunya.

"Aida tunggu teleponnya ya mas, hari jumat depan" suara Aida di ujung telepon, dan hari ini kamis, besok jumat turun di darat.

Lamunan Hadi buyar, tak terasa dia sudah ada di depan pintu kamar pak Danu...

Langkah Hadi gontai, setelah keluar dari kamar pak Danu, wajahnya tak lagi cerah seperti sebelum masuk kamar bos bagian mesinnya itu. "Kau tau kan Hadi, Akri sekarang sedang sakit keras, jadi dia tidak bisa menggantikan shiftmu bertugas di kapal, karena hanya kalian berdua yang ahli di bagian itu, mohon pengertiannya ya"

Di sudut kamar berukuran 3 x 3 m itu, Hadi duduk, terpekur, tak menyangka seperti ini akhirnya. "Maafkan aku Aida, maafkan Abi ya Azzam, kali ini tak dapat memenuhi janji lagi"

* * *

Di sebuah rumah mungil, tampak seorang wanita muda duduk memangku seorang bayi laki-laki, sesekali memandang handphone di atas meja, berharap pagi ini mendapat kabar dari kekasih hatinya..

"Tahun ini kita akan berlebaran bersama Abi, Azzam" bisiknya pada bayi tampan itu....

¤ ¤ ¤ ¤

Mendono, 07082010

Ramadhan menjelang, selamat menunaikan ibadah shaum ramadhan..

Mohon maaf lahir batin...

Irosa

Wanita di Stasiun Kereta

Hari ini, seperti biasa, setiap dua minggu sekali aku ke stasiun kereta...

Duduk dengan macho, kukeluarkan koran, kubaca di kursi tunggu, kupikir penampilanku sudah sangat modis..

Kemeja kotak-kotak biru merk terkenal, jeans bermerk, ransel laptop di punggungku, blackberry bold dalam genggamanku, sepatu hitam mengkilat, ditambah topi yang kupakai, ditambah senyum yang selalu mengembang...

Aku merasa terlihat paling tampan dan keren di antara lelaki-lelaki yang ada di stasiun ini, kuperhatikan nyaris tak ada perempuan yang tidak menoleh kepadaku, ehm aku memang penuh pesona...

Kuedarkan pandanganku ke seluruh stasiun...Ups, wanita itu, wanita cantik yang selalu membuat hatiku tergetar memandangnya, sudah sering kuliat dia di stasiun ini..

Kali ini dia memakai kemeja polos tangan pendek warna pink, dipadu padan dengan celana panjang putih, tas putih dijinjingnya, dengan rambut panjang tergerai begitu saja, sesekali dibetulkan rambut yang menutupi sebagian wajahnya...

Beberapa pria memandangnya, melempar senyum walau wanita itu sama sekali tak menggubrisnya, tentu saja mereka kalah pesona denganku...

Aku berdiri, berusaha mendekat ke tempat wanita itu berdiri, tiba-tiba wanita itu melambaikan tangannya, aku terkesiap, kepadaku kah lambaian tangannya, ingin kulambaikan juga tanganku, tapi aku urungkan, gengsi dong...

Seorang lelaki berjaket kumal, masih dengan menggunakan helmnya melewatiku, masih sempat kucium aroma bau tak enak di badannya, berjalan mendekati wanita itu. Wanita cantik pujaan hatiku itu tersenyum manis menyambutnya, tak lama kemudian mereka bergandengan tangan keluar stasiun...

Oh My God...Aku lemas...Tukang ojekkah itu ????

* * * * * * * *

Kapal Ledy Fortuna, 05082010

Kamis, 05 Agustus 2010

Bercermin dari Sakit


Tak terasa sudah hari kamis lagi, berarti sudah seminggu aku keluar dari Rumah Sakit. Yeah, aku terpaksa harus diopname di rumkit karena setelah tes darah ternyata hasilnya aku positif Malaria Vivax stadium dua. Yang lebih disayangkan lagi, putri kecilku juga terkena Malaria yang sama, vivax stadium awal. Rencananya hanya berobat saja, tapi saat nunggu hasil lab, tiba-tiba badan dingin semua, dah dapet lagi tuh yang namanya gejala Malaria, langsung dimasukin di ruang perawatan.

Ya Allah, seumur-umur hidupku (semoga nggak lagi deh masuk rumah sakit karena sakit, amin), aku baru dua kali masuk perawatan rumah sakit, yang pertama waktu ngelahirin Chacha dan yang kedua ya yang barusan masuk seminggu lalu. Terasa sekali betapa tidak mengenakkan berada di rumah sakit, pikiranku selalu teringat Chacha dan rumah. Apalagi lokasi Rumkit yang jauh dari kota Banggai, membuatku tambah nggak semangat lagi berada di rumkit. Aku kasian pada suamiku, yang harus bolak balik ngurusi kami berdua (aku dan Chacha), karena Chacha tidak mau dirawat di rumkit, takut dia melihat jarum infus yang ada di tanganku. Aku berharap waktu itu, semoga suamiku kuat hadapi semua ini, jangan sampai drop staminanya.

Malam pertama di rumkit, Chacha nggak mau tidur di rumah tanpa aku, terpaksa jam delapan malam dilarikan ke rumkit untuk bertemu aku, tidur bersebelahan denganku, sempit-sempitan, sambil tangan yang ada jarum opnamenya kusembunyikan, kasian Chachaku, hasilnya aku semalaman nggak bisa tidur, terus terjaga. Satu persatu, bergantian kupandangi suamiku yang tertidur pulas di tempat tidur sebelah, Chacha yang pulas juga tidurnya dalam dekapanku, dan Sulastri yang setia menemaniku mengurus semua urusan kecil di rumkit, terima kasih ya Allah kau beri mereka kekuatan untuk merawatku yang sakit ini.

Besoknya, aku dah berkeras mau pulang, nggak tahan aku dengan kondisi di rumah sakit, kasian sama suamiku yang harus bolak balik rumah - rumkit, kalau dekat nggak apa-apa, ini jauhnya minta ampun, fotokopi askes hanya 6 lembar harus lari ke kota, makan waktu sekali, akhirnya walaupun sebenarnya dokter belum mengijinkan tapi keputusan dikembalikan pada kami, aku mantap pulang, rindu rumah, rindu tempat tidur di rumah, semoga bisa lebih sehat lagi harapanku.

Sampai di rumah, serasa sakitku berkurang, apalagi bertemu dengan putri kecilku yang kegirangan melihat mamah dan papahnya balik, aku peluk dia sekenceng-kencengnya, rinduuuu sekali sama Chacha, langsung terjun payung di tempat tidurku yang sudah rapi. Tekadku dalam hati "aku harus cepat sembuh, untuk Chacha dan suamiku". Enaknya di rumah, mau apa-apa nggak perlu lama-lama, bisa nonton televisi, bisa internetan hehehehe..., klo di rumah sakit kan nggak bisa begituan, nggak ada signalnya pula, susah komunikasi, jadinya berasa lebih sakit lagi. Than it works...aku merasa benar-benar sehat setelah berada di rumah,panas jadi turun, nggak demam lagi, aku bisa tidur pulas malamnya, Alhamdulillah.

Cermin dari sakitku ini, teringat seorang teman datang menjenguk dan berkata "mungkin ada baiknya kita sakit, sakit punya banyak manfaat, salah satunya adalah menghapuskan dosa-dosa kita, manfaat yang lainnya lagi adalah kita bisa rehat sejenak dari aktifitas kita sehari-hari " aku mengiyakan. Dua minggu terakhir memang aku lagi sibuk-sibuknya, bahkan makan pun nggak terpikir lagi, alhasil selain malaria, diagnosa dokter juga menyatakan aku maag. Pengennya seh turun badan karena kemaren berat badanku agak naik, takut naik-naik terus, akhirnya makan dikurangi, eh malah jadi maag. Sekarang, jadi turun beneran berat badanku, yaaa salah satu cermin dari sakit kemarin hehehehe.

Terakhir, aku terharu, di saat sakit seperti ini, kelihatan banget orang yang peduli padaku, banyak teman-teman yang menjengukku di rumah sakit maupun di rumah, sampai-sampai, segala macam makanan kecil jadi bertumpuk di meja, bahkan ada yang ketika aku sudah keluar dari rumah sakit, masih datang menjenguk, alhasil hanya tempat tidur kosong yang ditemui ^__^. Yang lebih membuatku terharu lagi, ketika teman-teman kantor suamiku menjenguk di rumah, mulai dari pak ketua, pak Waka, dan teman-teman lainnya, rombongan datang ke rumah kami yang kecil, bener-bener bantuan spirit buatku untuk cepat sembuh, saat itu aku berpikir " ini baru istrinya yang sakit udah dijenguk rombongan begini, apalagi kalau suamiku yang sakit ya ". Bener-bener terharu....

Intinya, aku harus banyak bersyukur dengan sakit yang kemarin, teguran buatku yang kadang lalai padaMU,sekarang aku harus banyak istirahat, menggunakan waktu sebaik mungkin, klo kemarin agak ngedrop kerjanya, sekarang harus dibawa santai, makan jalan terus, harus tetap fit, apalagi sudah pernah kena Malaria. Sehat itu terasa sangat menyenangkan ketika kita merasakan sakit.


Banggai, 05 Agustus 2010

Irma

Chacha 3 Years + 17 days


Alhamdulillah...putriku umurnya sudah 3 tahun lebih 17 hari, tentu saja banyak yang telah dilakukannya sesuai perkembangannya, tak perlu melebihi perkembangan normal di usianya setidaknya bisa sama asal jangan mundur hehehehe...

Banyak hal yang terjadi selama tiga tahun perjalanan hidupnya, aku dan suamiku mengikuti perkembangannya selalu, mulai dari Chacha belajar merangkak, pertama kalinya belajar duduk, pertama kalinya bisa berdiri, dan yang tentu saja menegangkan dan menyenangkan ketika melihat putri kecil kita bisa berdiri pertama kali dan berjalan pertama kali. Ooooo itu sungguh pengalaman menyenangkan...bahkan saat-saat membahagiakan itu terekam dalam kameraku, jadi lucu klo dibuka filenya lagi ^___^.

Enam bulan terakhir perkembangannya begitu pesat, banyak kelucuan yang dibuat olehnya, apalagi di saat Chacha sudah bisa menyebut "R" dengan sempurna, rasa-rasanya semua kata diubah menjadi huruf "R" semua (hehehehe). Cha sering merengek ingin masuk TK, kalau keluar tiap lewat TK pasti Cha akan ngomong sambil menunjuk TK "itu sekolahku !!!!". Sayang, selain tempat tinggal dan tempat kerja kami yang agak jauh dari kota, tidak ada yang bisa kami andalkan untuk menjaga Chacha. Sabarlah nak, nanti bunda akan mendidikmu sementara di rumah, sapatau abis lebaran bisa bagi waktu untuk masukkan Chacha di PAUD :)

Satu hal yang selalu aku syukuri, selama tiga tahun ini Chacha tumbuh di bawah asuhan kami, dengan tangan kami dan keringat kami sendiri. Sesibuk-sibuknya kami dalam pekerjaan, secapek-capeknya dalam pekerjaan, aku dan suamiku berusaha memberikan waktu yang memang sudah menjadi hak Chacha untuk dia miliki bersama kedua orang tuanya terutama dengan Bundanya.

Bukan memuji diri sendiri (ya Allah jauhkan aku dari sifat itu), hanya saja sedikit pembelaan bahwa ibu bekerja pun masih tetap punya waktu untuk memantau perkembangan anak-anaknya, aku masih menyuapi Cha makan, memandikannya dan menggantikan dia baju, bergantian seh dengan suami, kalau ke sekolah Cha juga ikut, aku ngajar di depan kelas dia juga ikutan ngajar, spidol,penghapus jadi sasarannya, tapiiii itulah seninya merawat anak tanpa babysitter, dan aku menikmatinya (Suamiku juga pastinya hehehehe), intinya seh kualitas lebih penting daripada kuantitas, sering ketemu dengan kualitas yang tinggi, atau jarang ketemu tapi tetap dengan kualitas yang tinggi, bukan suatu hal yang mustahil...

Chacha...tidak Naif,pasti semua orang tua berharap anaknya tumbuh jadi anak yang cerdas dan sukses, tapi bunda pun berharap yang paling utama kau menjadi anak yang sholehah....

Bunda akan tetap menulis semua perkembangan tentangmu, sampai suatu saat kau bisa membaca tulisan ini, kau akan tau betapa besar cinta Kami padamu putriku ^_^

Banggai, 03 Agustus 2010

Bunda Chacha