Jumat, 06 September 2019

Review Konten Website rumahbelajar.id sebagai Tugas Tambahan Peserta VCT Batch 5 2019 VCI 116 Sulteng


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Perkenalkan saya Irma Octarina Sabubu, S.Pd dari SMK Negeri 1 Luwuk akan melakukan review dua konten pada web rumahbelajar.id. Review ini saya laksanakan untuk tugas tambahan kegiatan VCT batch 5 2019 VCI 116 Sulawesi Tengah yang diselenggarakan oleh SEAMEO SEAMOLEC.

Konten pertama yakni tentang buku berjudul "YANG SILAM JADI SULUH JADI SUAR Masjid Warisan Budaya di Jawa dan Madura". Buku ini dipublish pada web rumahbelajar pada tanggal 4 September 2019, buku yang diterbitkan oleh Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang ditulis oleh tim penulis Hilman Handoni, Valentina Beatrix Sondakh, Murni Setiawati Ningrum dkk terdiri dari 499 halaman. Buku ini terdiri dari 6 bab yang diterbitkan guna merekam kembali jejak peradaban Islam masa lalu yang masih terintegrasi hingga masa kini melalui peninggalan yang bersifat living monument. Buku ini sangat menarik untuk dibaca, bahasanya begitu ringan dan tidak kaku membuat siapa pun dapat menikmatinya. Buku ini mengangkat berbagai kisah unik dibalik perjalanan dari awal pendirian hingga saat ini sehingga buku ini layak dijadikan rujukan dalam studi literatur perkembangan Islam. Selain itu buku ini mengungkap nilai penting peninggalan yang layak untuk dilestarikan sebagai aset budaya yang dimiliki suatu daerah yang akan memperkaya khazanah kebudayaan nasional.
Konten kedua yakni video mengenai mengenal pecahan menggunakan pizza. Video ini dipublish pada tanggal 19 Juli 2019. Video pembelajaran yang dipresentasikan oleh Tyas Wirani berlangsung selama 8 menit 28 detik. Isi video menjelaskan tentang bagaimana caranya mengajarkan pecahan melalui pizza. Tyas Wirani mengambil video ini bersama anak-anak kampung Stem Joho dimana dia membagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok yang mendapatkan pizza dengan jumlah yang sama yakni satu pizza dipotong dengan potongan berbeda, kelompok kedua yakni kelompok pizza yang dibagikan pizza dengan jumlah yang berbeda dengan ukuran yang berbeda. Dimana nanti anak-anak akan mencari hubungan antara ukuran potongan pizza dengan banyaknya porsi yang dihidangkan, apakah semakin banyak pizza semakin banyak yang bisa dihidangkan. Video ini menjadi alternatif media untuk mengenalkan pecahan pada siswa atau putra-putri kita. Kekurangan pada video ini tidak adanya kesimpulan yang formal tentang pecahan.


Demikian review dua konten rumahbelajar.id yang bisa saya paparkan, semoga berguna untuk website rumah belajar.id kedepannya.


Terima kasih


Video review konten rumahbelajar.id menggunakan STT dan TTS bisa dilihat di

https://youtu.be/09j2jdXUYUM

Rabu, 25 Mei 2011

Huaaa Blogku, Debunyaaaa

Bersih bersih dulu hehehe, edit-edit, sebelum tiba suatu waktu mau nge post blog lagi...

^_^

Kamis, 14 Oktober 2010

[FF] TAK BIASA





“Bu Dok…” wajah tirus anak lelaki itu muncul di balik pintu

“hai Ayis, mau???? “ kukeluarkan setoples manisan, Ayis menggeleng

“manisan khas daerah ibu iyo ?, kalau torang rata-rata suka pedis” 


“kok tidak pedis rasanya?”aku tersenyum, di hari pertamaku, Ayis anak pertama yang menjumpaiku.

“Ayis, di sini ada kamar kecil?”

“kamar di kampung ini kecil semua” jawabnya polos

“maksudku toilet” Ayis memandangku heran

“WC???” keningnya berkerut, aku pun membisikkan sesuatu

“ooohhhhh…itu!!! Disitu!!!” ditunjuknya sungai di belakang rumah,

Oh no, kuurungkan niatku.

 *********

Akhirnya bisa juga warga di sini menyelesaikannya dalam sehari

Kujelaskan manfaat  MCK ini, bapak ibu anak-anak antusias mendengarkan

 “bu dok, Ayis  mau….” Ucapnya bersegera keluar

Setengah jam tak ada tanda-tanda Ayis kembali

“Ayis…” kuketuk pintu WC, pintunya tak terkunci, aku melongo

WC kosong itu membuat senyumku mengembang

**********


Photobucket




Tulisan ini dibuat untuk Flash Fiction Contest dalam rangka memeriahkan Pesta Blogger 2010.

Tema       : Hidup dalam keberagaman

Subtema : anak

********

Ket : 

Torang = kami

 Pedis = pedas

Rabu, 13 Oktober 2010

Bingkisan Untuk Aisyah

Pada sore yang cerah di sebuah rumah kardus berukuran 4 x 4 m, di antara kumpulan rumah kumuh, "ibu,,,Aisyah ingiiiinnn sekali lebaran kali ini punya baju baru,,," Aisyah menyahut sambil membersihkan lantai yang tadinya kotor dengan sampah-sampah hasil memulung. Ibu duduk menyandarkan punggungnya di dinding rumah yang hampir roboh itu, sambil tersenyum "insyaAllah Aisyah, doakan ibu dapet rezeki lebih banyak lagi biar bisa belikan kau dan abangmu baju baru di hari lebaran nanti". Mata bening Aisyah berbinar, dengan semangatnya dia mendekati ibunya "Aisyah pijitin ya Bu,,,biar Ibu nggak pegal-pegal lagi", Ibu hanya tersenyum. Tak lama, Fatih pun datang membawa tiga bungkus nasi "untuk berbuka bu..." sahut Fatih, "Abang...insyaAllah kita akan dibelikan baju baru oleh ibu, kita nggak akan pakai baju lama lagi nanti. Aufa, tetangga kita udah punya lho bang,," sela anak gadis berumur tujuh tahun itu dengan semangatnya. Fatih hanya tersenyum, "amiin de".

********

Tiga hari sudah ibu jatuh sakit, batuk yang sedari dulu dialaminya kini semakin membuat ibu kesulitan beraktifitas, dengan sedih Aisyah menemani sang ibu yang terkulai lemah di tempat tidurnya. "Maafkan ibu Aisyah, sudah merepotkanmu, daann....." kata ibu terpotong, Aisyah mendehem "Ibu, tak apa...jangan terlalu dipikirkan, baju Aisyah masih bagus kok, masih layak pakai, yang terpenting sekarang adalah ibu sembuh" air mata tak terasa menetes di pipi Aisyah. Tak lama, Aisyah memandang abangnya, yang mungkin kalau sekolah sudah kelas dua smp. "Abang...besok Aisyah ingin pergi memulung,," Fatih yang sedari tadi duduk di dekat pintu memandang adiknya "Aisyah di sini saja, temani ibu, Abang bisa kok nyari sendiri, insyaAllah akan tetap ada baju baru buatmu Aisyah". Aisyah hanya terdiam "Aisyah tak berharap lebih, kesembuhan ibu lebih penting" ujarnya.

********

Siang hari di rumah kumuh, Fatih menghitung penghasilan yang didapatkannya hari ini, "lumayan juga, kalau ditambah dengan hasil tabunganku pasti sudah mencukupi untuk baju baru dan obat ibu" ucapnya dalam hati. Sebuah celengan dari bambu yang dibuatnya dulu, dibelah, koin-koin dan beberapa uang kertas tersimpan di dalamnya. Dipandanginya Aisyah dan ibunya yang sedang tertidur pulas, lalu Fatih tersenyum. Tak lama, fatih pun pergi.

********

Fatih mengitari pasar sore, pandangannya tak lepas dari pakaian anak gadis yang seumuran adiknya Aisyah, mencoba mencocokkan harga dengan uang yang ada di kantongnya "baju sekarang sudah pada mahal-mahal" gerutunya, terbayang wajah Aisyah yang tersenyum bahagia mendapatkan baju baru dari Fatih. Hari sudah sore, dengan tergesa-gesa Fatih meninggalkan sebuah toko buku "Al-Fikri" menuju apotik membeli obat untuk ibunya, kemudian singgah sebentar di warung lesehan membeli makanan untuk berbuka nanti. "kali ini, nggak apa-apa deh makan enak" ucapnya dalam hati. Fatih pun berlalu dengan senyum, terbayang wajah Aisyah yang pasti bahagia dengan bingkisan darinya, terbayang wajah ibunya yang sering sakit-sakitan. Dalam perjalanan pulang, Fatih selalu berucap dalam hati "untukmu ibu, semoga kau sehat, untukmu Aisyah, semoga Mushaf baru ini membuatmu jadi anak yang sholehah, maaf tak membelikanmu baju baru, Mushaf lebih penting untukmu adikku".

********

Aisyah setia menanti di dekat pintu, dia bahagia sekali sore ini karena abangnya akan kembali dengan sebuah baju baru, tersenyum membayangkan tubuhnya yang akan terbalut busana muslim pemberian kakaknya. Waktu terus berlalu, "Ibuuuu...sudah mau Maghrib, abang belum pulang juga" nampak wajah cemas Aisyah, wajah yang tadinya ceria menunggu kedatangan abangnya pulang kini berubah menjadi cemas. "banyak yang harus dicari abang, Aisyah, jadi bersabarlah" Ibu menenangkan Aisyah, menyembunyikan kecemasan yang juga mulai bergelayut di hatinya. "tak biasanya Fatih begini, ya Allah lindungi putraku" doa ibu.

--------------

Suasana masih subuh, namun penjaja koran sudah siap dengan aksinya di jalanan yang sudah mulai ramai, "koran..koran..banyak berita menarik, ayo-ayo dibeli...". Di koran itu, di salah satu beritanya tertulis Seorang Remaja tewas tertabrak mobil. Dalam gambarnya, di sekitar remaja tewas, obat-obatan, makanan dan sebuah mushaf berserakan di jalan raya...

####

Suwawa, 04092010

Irosa

Senin, 11 Oktober 2010

Gadis Feminim Itu...

Lagi-lagi aku jumpai gadis itu, dan masih tetap dengan busananya yang menurutku sangat minim, kaos ketat tangan panjang, dan celana jeans yang ketat juga, rambut dibiarkan terurai, dengan gincu yang menurutku sudah sangat menor. "hei kau, kenapa menatapku seperti itu!!!" gadis itu memelototiku, ups rupanya aku terlalu lama memandangnya, aku beristighfar dan segera berlalu. "hei kau, sialannnn!!!".

"Namanya Annisa, adik tingkat kita, denger-denger dia itu punya genk cewe di kampus ini dan yang parahnya lagi, dia ketua genk tersebut" jelas Andi. Aku manggut-manggut, "kasian ya gadis seperti itu" ujarku lirih, "kenapa seh kau sibukkan dirimu hanya untuk mengurus gadis itu, daripada ngurusin dia, yuuk kita ke mushola, dah mau Dzuhur". Aku dan Andi pun meninggalkan perpustakaan. Dalam perjalanan ke Mushola, gadis itu terlihat lagi, kali ini bersama gadis-gadis lainnya, tertawa cekikikan dan astaga...apa yang dipegangnya itu, sebungkus rokok. "Naudzubillah" gumamku. "Heiii...Ustad..ustad" suara gadis itu terdengar sedikit merdu, aku dan Andi mempercepat langkahku, berusaha untuk menghiraukan panggilannya yang terkesan menggoda itu. "Mau rokok tidak ? hahahaha" ujarnya sambil tertawa disambut tawa teman-temannya yang lain, kami tetap berlalu secepatnya menuju mushola, Azan Dzuhur sudah berkumandang.

*******

Alhamdulillah, baru aja selesai sholat Lail, kuraih mushaf dan kulanjutkan dengan mengaji, sebelumnya kulirik jam sudah menunjukkan pukul 03.30 malam. Suaraku memecah kesunyian malam itu, "Tolooong..toloooong !!!!!! buka pintunya !!!!" aku terkejut, seseorang menggedor-gedor pintu kamar kosku, suara seorang gadis, "tolooong...buka pintunya, saya mau diperkosa, toloooong!!!!!", aku panik, apa yang harus aku lakukan, gadis itu terus menerus menggedor pintu, kedengarannya dia sangat ketakutan sekali. "toloooonggg..." suara itu mulai lirih kudengar, aku beranikan membuka pintuku, gadis itu langsung melaju masuk ke dalam kamarku. "Astaghfirullah!!!" seruku, gadis itu, pakaiannya sudah tak utuh lagi, penampilannya sangat feminim, roknya pun sangat pendek, "ya Allah.." aku kebingungan, "tolong aku, sembunyikan aku di sini, dia...dia mengejarku!" pinta gadis itu, bau alkohol tercium dari mulutnya, dia nampak sangat ketakutan. "Baiklah..baiklah" aku mencoba menenangkannya, sesaat kami saling bertatapan..gadis itu..gadis itu sepertinya kukenal...dia pun mengerutkan dahinya, ada mimik keterkejutan saat melihatku, pertanda dia pun mengenalku. "aku telpon mbak Nadia dulu di kostan cewe, kau tunggu di sini saja" ucapku sambil mengambil handphone dan berlalu keluar dari kamar.

*******

Tujuh tahun kemudian...

Rasanya belum lama ku tertidur, harus bangun lagi, semalaman aku bekerja menyelesaikan tulisanku, sepertinya secangkir kopi akan menyegarkanku, aku hendak keluar tapi seorang wanita mencegatku di pintu kamar, wanita berambut panjang dengan daster panjang menutupi tubuhnya, aku sempat terkesima dan lagi-lagi "heiii, kenapa menatapku seperti itu, sudah waktunya mengantar Faqih ke sekolah, ingat sudah janji mengantarnya kali ini" serunya. Oh aku lupa, segera ku berlalu ke kamar mandi, "minum kopinya dulu" wanita itu tersenyum, dan Faqih sudah menantiku sejak tadi. Kuraih kunci motor jaket, sebelum pergi masih kupandangi wanita di teras rumahku, kali ini dia mengenakan jilbabnya, kubalas lambaian tangannya, Annisa, istriku.

----------

Suwawa, 29082010

Irosa

Jumat, 27 Agustus 2010

Siapa Yang Kau sebut Cinta

Tet..tet..tet...Handphone Nabil berdering, pertanda ada sms yang masuk. Zulfa yang sedang dalam kamar, meraih hp itu, berniat akan menyerahkannya pada Nabil suaminya. Langkahnya terhenti sejenak, tertulis di layar Hp --sms dari Adinda--. "Siapa ya?" tanyanya dalam hati. Nabil segera menerima Hp itu setelah Zulfa memberitahukan ada sms yang masuk. Nabil segera menelepon, "Aku lagi siap-siap neh, kau tunggu saja di tempat biasa oke", Nabil menutup pembicaraannya dengan senyuman, pergi meninggalkan Zulfa yang menyimpan tanya dalam hati.

-------------------------

Tet..tet..tet...Handphone itu berbunyi lagi, lagi-lagi sms dari Adinda, "siapa seh?"pikirannya berkecamuk. Dan lagi-lagi, Nabil begitu girang saat membaca sms itu, bersegera berpakaian rapi dan meninggalkan Zulfa satu kecupan di kening dengan senyum tersungging "Abi pergi dulu ya Mi, ada urusan penting, mungkin agak lama pulangnya" Zulfa membalas senyum itu walaupun dengan terpaksa karena masih tetap menyimpan tanya dalam hati "oh ya...kalau sampai jam dua sore Abi tak pulang, pergi ke pasarnya sama adikmu aja ya, Abi sudah hubungi dia tadi"..."lama dong pulangnya Bi, tapi masih berbuka di sini kan?" tanya Zulfa, Nabil tersenyum, kali ini terlihat begitu tulus "pasti dong Mi" dan Nabil pun berlalu dari hadapannya.

------------------------

Telepon berdering lagi, kali ini telepon dari Adinda, Nabil yang langsung mengangkatnya, terlihat serius pembicaraannya, "Pasti dong, semua demi cinta" tutup Nabil mengakhiri pembicaraan di telepon. "Apa? apa aku tak salah dengar dengan apa yang mas Nabil katakan terakhir, rasanya begitu jelas, nggak mungkin salah dengar" Zulfa mulai merasa tidak nyaman dengan sms dan telepon dari wanita misterius bernama Adinda itu. Malam ini, dia berniat menanyakannya pada mas Nabil, tapi ternyata suaminya mempercepat tidurnya.

-----------------------

"Pagi ini, pasti si Adinda sms atau telepon lagi" pikir Zulfa, diliriknya Nabil yang sedang menyantap sahur dengan lahap, melempar senyuman kala mereka bertemu pandang. Dan ternyata betul dugaan Zulfa, Handphone Nabil berdering lagi, kali ini Zulfa yang mengangkatnya "Assalamu'alaikum, ini siapa ya dan ada perlu apa?? tukas Zulfa, "emm..saya bisa bicara dengan mas Nabil?"jawab suara yang di seberang, Zulfa menyerahkan handphone pada Nabil yang sudah menunggu dengan senyum di sampingnya.

----------------------

-Jadi gimana mas Nabil, suka nggak yang kemaren itu?- Zulfa bergetar membaca sms itu, dia memberanikan diri membaca sms yang ada di handphone mas Nabil,  -kayaknya aku sudah merasa cocok, nanti kita tuntaskan besok- sms mas Nabil pada wanita itu, -nggak nyesel neh???- percakapan di sms itu diakhiri mas Nabil -Kalau Cinta, nggak mungkin nyesel dong :)-, Zulfa tak mampu menahan badannya lagi, dia terduduk di samping tempat tidur, Nabil nampak pulas dalam tidurnya.

---------------------

Zulfa masih terpaku di depan pesawat telepon rumahnya, hatinya campur aduk, Nabil sudah pergi pagi-pagi sekali, lagi-lagi dengan senyum yang paling manis sedunia, meninggalkannya dengan kecupan di kening yang dirasanya hambar. "aku harus kuat" katanya menenangkan diri, dalam genggamannya sudah ada kertas bertuliskan nomor Adinda itu. Air mata menetes di pipinya, tak mampu menahan sedih, mantap menekan angka di pesawat teleponnya. "Halo, selamat pagi, Perumahan Bukit Zaitun Permai, ada yang bisa kami bantu?" Zulfa terdiam, tak mampu berkata-kata lagi.

---------------------

Di tempat lain, Nabil dan Adinda sedang berada di depan sebuah bangunan mewah yang terlihat minimalis, "tepat sekali pilihanmu Dinda, aku yakin istriku pasti akan menyukai rumah pilihanmu ini" sahut Nabil puas, "yah, walaupun mahal dan hampir menguras isi tabungan anda pak Nabil" sambung Adinda, "Tak masalah, demi Cinta, karena aku sangat mencintai Zulfa istriku" senyum Nabil, "besok Abi kan beri kejutan di Milad pernikahan kita Ummi, Abi ingin kembali melihat senyummu"

**************

Gorontalo, 26082010

Irosa

#Berharap dapat hadiah rumah di Milad pernikahanku yang ke empat tgl 09 September nanti, biar boo depe gambar dulu hehehehe#

Sabtu, 14 Agustus 2010

"Transit" Di Rumah Mertua

Enam hari "transit" di rumah Mertua, sungguh sangat mengesankan buatku, semua hari-hariku ingin kubuat mengesankan selalu, enjoy dengan semua yang aku alami, ini aku dan hidupku ^_^


Sederhana, itulah kesan yang selama ini aku rasakan jika berinteraksi dengan keluarga suamiku apalagi tinggal di dalamnya, tidak ada yang berlebihan karena memang tak ada yang bisa dilebih-lebihkan...

Mertuaku, papa Mantu hanyalah petani kebun yang di sela-sela aktifitasnya itu, beliau juga imam di Masjid ujung kampung, mama Mantu juga hanya ibu rumah tangga yang turut membantu suaminya bekerja di kebun, tentu saja mereka tak mengenyam pendidikan setinggi yang kita rasakan, tapi bagiku mereka sudah berhasil mendidik anak-anaknya, membentuk karakter yang baik pada anak-anaknya, menjadikan mereka mandiri dan tangguh.

Selama aku berada di sini, banyak yang berkesan, suamiku bersaudara berkumpul bersama, wow, ceria sekali, sungguh terbangun komunikasi yang sehat antara mereka semuanya, suamiku satu-satunya anak yang PNS, selebihnya tidak tapi mereka adalah anak-anak yang mandiri..

Ramadhan, memang mempererat persaudaraan, terbukti selama aku di kampung, wara wiri ke syukuran keluarga, baik syukuran ipar-iparku, tante-tante dan om-om suamiku (wah jadi iri melihat udah kakek nenek tapi persaudaraannya kental banget, aku pun berharap begitu dengan adik-adikku, amin)

Aku bersyukur jadi bagian dari mereka

Mendono, 11082010

Irosa