Kamis, 14 Oktober 2010

[FF] TAK BIASA





“Bu Dok…” wajah tirus anak lelaki itu muncul di balik pintu

“hai Ayis, mau???? “ kukeluarkan setoples manisan, Ayis menggeleng

“manisan khas daerah ibu iyo ?, kalau torang rata-rata suka pedis” 


“kok tidak pedis rasanya?”aku tersenyum, di hari pertamaku, Ayis anak pertama yang menjumpaiku.

“Ayis, di sini ada kamar kecil?”

“kamar di kampung ini kecil semua” jawabnya polos

“maksudku toilet” Ayis memandangku heran

“WC???” keningnya berkerut, aku pun membisikkan sesuatu

“ooohhhhh…itu!!! Disitu!!!” ditunjuknya sungai di belakang rumah,

Oh no, kuurungkan niatku.

 *********

Akhirnya bisa juga warga di sini menyelesaikannya dalam sehari

Kujelaskan manfaat  MCK ini, bapak ibu anak-anak antusias mendengarkan

 “bu dok, Ayis  mau….” Ucapnya bersegera keluar

Setengah jam tak ada tanda-tanda Ayis kembali

“Ayis…” kuketuk pintu WC, pintunya tak terkunci, aku melongo

WC kosong itu membuat senyumku mengembang

**********


Photobucket




Tulisan ini dibuat untuk Flash Fiction Contest dalam rangka memeriahkan Pesta Blogger 2010.

Tema       : Hidup dalam keberagaman

Subtema : anak

********

Ket : 

Torang = kami

 Pedis = pedas

Rabu, 13 Oktober 2010

Bingkisan Untuk Aisyah

Pada sore yang cerah di sebuah rumah kardus berukuran 4 x 4 m, di antara kumpulan rumah kumuh, "ibu,,,Aisyah ingiiiinnn sekali lebaran kali ini punya baju baru,,," Aisyah menyahut sambil membersihkan lantai yang tadinya kotor dengan sampah-sampah hasil memulung. Ibu duduk menyandarkan punggungnya di dinding rumah yang hampir roboh itu, sambil tersenyum "insyaAllah Aisyah, doakan ibu dapet rezeki lebih banyak lagi biar bisa belikan kau dan abangmu baju baru di hari lebaran nanti". Mata bening Aisyah berbinar, dengan semangatnya dia mendekati ibunya "Aisyah pijitin ya Bu,,,biar Ibu nggak pegal-pegal lagi", Ibu hanya tersenyum. Tak lama, Fatih pun datang membawa tiga bungkus nasi "untuk berbuka bu..." sahut Fatih, "Abang...insyaAllah kita akan dibelikan baju baru oleh ibu, kita nggak akan pakai baju lama lagi nanti. Aufa, tetangga kita udah punya lho bang,," sela anak gadis berumur tujuh tahun itu dengan semangatnya. Fatih hanya tersenyum, "amiin de".

********

Tiga hari sudah ibu jatuh sakit, batuk yang sedari dulu dialaminya kini semakin membuat ibu kesulitan beraktifitas, dengan sedih Aisyah menemani sang ibu yang terkulai lemah di tempat tidurnya. "Maafkan ibu Aisyah, sudah merepotkanmu, daann....." kata ibu terpotong, Aisyah mendehem "Ibu, tak apa...jangan terlalu dipikirkan, baju Aisyah masih bagus kok, masih layak pakai, yang terpenting sekarang adalah ibu sembuh" air mata tak terasa menetes di pipi Aisyah. Tak lama, Aisyah memandang abangnya, yang mungkin kalau sekolah sudah kelas dua smp. "Abang...besok Aisyah ingin pergi memulung,," Fatih yang sedari tadi duduk di dekat pintu memandang adiknya "Aisyah di sini saja, temani ibu, Abang bisa kok nyari sendiri, insyaAllah akan tetap ada baju baru buatmu Aisyah". Aisyah hanya terdiam "Aisyah tak berharap lebih, kesembuhan ibu lebih penting" ujarnya.

********

Siang hari di rumah kumuh, Fatih menghitung penghasilan yang didapatkannya hari ini, "lumayan juga, kalau ditambah dengan hasil tabunganku pasti sudah mencukupi untuk baju baru dan obat ibu" ucapnya dalam hati. Sebuah celengan dari bambu yang dibuatnya dulu, dibelah, koin-koin dan beberapa uang kertas tersimpan di dalamnya. Dipandanginya Aisyah dan ibunya yang sedang tertidur pulas, lalu Fatih tersenyum. Tak lama, fatih pun pergi.

********

Fatih mengitari pasar sore, pandangannya tak lepas dari pakaian anak gadis yang seumuran adiknya Aisyah, mencoba mencocokkan harga dengan uang yang ada di kantongnya "baju sekarang sudah pada mahal-mahal" gerutunya, terbayang wajah Aisyah yang tersenyum bahagia mendapatkan baju baru dari Fatih. Hari sudah sore, dengan tergesa-gesa Fatih meninggalkan sebuah toko buku "Al-Fikri" menuju apotik membeli obat untuk ibunya, kemudian singgah sebentar di warung lesehan membeli makanan untuk berbuka nanti. "kali ini, nggak apa-apa deh makan enak" ucapnya dalam hati. Fatih pun berlalu dengan senyum, terbayang wajah Aisyah yang pasti bahagia dengan bingkisan darinya, terbayang wajah ibunya yang sering sakit-sakitan. Dalam perjalanan pulang, Fatih selalu berucap dalam hati "untukmu ibu, semoga kau sehat, untukmu Aisyah, semoga Mushaf baru ini membuatmu jadi anak yang sholehah, maaf tak membelikanmu baju baru, Mushaf lebih penting untukmu adikku".

********

Aisyah setia menanti di dekat pintu, dia bahagia sekali sore ini karena abangnya akan kembali dengan sebuah baju baru, tersenyum membayangkan tubuhnya yang akan terbalut busana muslim pemberian kakaknya. Waktu terus berlalu, "Ibuuuu...sudah mau Maghrib, abang belum pulang juga" nampak wajah cemas Aisyah, wajah yang tadinya ceria menunggu kedatangan abangnya pulang kini berubah menjadi cemas. "banyak yang harus dicari abang, Aisyah, jadi bersabarlah" Ibu menenangkan Aisyah, menyembunyikan kecemasan yang juga mulai bergelayut di hatinya. "tak biasanya Fatih begini, ya Allah lindungi putraku" doa ibu.

--------------

Suasana masih subuh, namun penjaja koran sudah siap dengan aksinya di jalanan yang sudah mulai ramai, "koran..koran..banyak berita menarik, ayo-ayo dibeli...". Di koran itu, di salah satu beritanya tertulis Seorang Remaja tewas tertabrak mobil. Dalam gambarnya, di sekitar remaja tewas, obat-obatan, makanan dan sebuah mushaf berserakan di jalan raya...

####

Suwawa, 04092010

Irosa

Senin, 11 Oktober 2010

Gadis Feminim Itu...

Lagi-lagi aku jumpai gadis itu, dan masih tetap dengan busananya yang menurutku sangat minim, kaos ketat tangan panjang, dan celana jeans yang ketat juga, rambut dibiarkan terurai, dengan gincu yang menurutku sudah sangat menor. "hei kau, kenapa menatapku seperti itu!!!" gadis itu memelototiku, ups rupanya aku terlalu lama memandangnya, aku beristighfar dan segera berlalu. "hei kau, sialannnn!!!".

"Namanya Annisa, adik tingkat kita, denger-denger dia itu punya genk cewe di kampus ini dan yang parahnya lagi, dia ketua genk tersebut" jelas Andi. Aku manggut-manggut, "kasian ya gadis seperti itu" ujarku lirih, "kenapa seh kau sibukkan dirimu hanya untuk mengurus gadis itu, daripada ngurusin dia, yuuk kita ke mushola, dah mau Dzuhur". Aku dan Andi pun meninggalkan perpustakaan. Dalam perjalanan ke Mushola, gadis itu terlihat lagi, kali ini bersama gadis-gadis lainnya, tertawa cekikikan dan astaga...apa yang dipegangnya itu, sebungkus rokok. "Naudzubillah" gumamku. "Heiii...Ustad..ustad" suara gadis itu terdengar sedikit merdu, aku dan Andi mempercepat langkahku, berusaha untuk menghiraukan panggilannya yang terkesan menggoda itu. "Mau rokok tidak ? hahahaha" ujarnya sambil tertawa disambut tawa teman-temannya yang lain, kami tetap berlalu secepatnya menuju mushola, Azan Dzuhur sudah berkumandang.

*******

Alhamdulillah, baru aja selesai sholat Lail, kuraih mushaf dan kulanjutkan dengan mengaji, sebelumnya kulirik jam sudah menunjukkan pukul 03.30 malam. Suaraku memecah kesunyian malam itu, "Tolooong..toloooong !!!!!! buka pintunya !!!!" aku terkejut, seseorang menggedor-gedor pintu kamar kosku, suara seorang gadis, "tolooong...buka pintunya, saya mau diperkosa, toloooong!!!!!", aku panik, apa yang harus aku lakukan, gadis itu terus menerus menggedor pintu, kedengarannya dia sangat ketakutan sekali. "toloooonggg..." suara itu mulai lirih kudengar, aku beranikan membuka pintuku, gadis itu langsung melaju masuk ke dalam kamarku. "Astaghfirullah!!!" seruku, gadis itu, pakaiannya sudah tak utuh lagi, penampilannya sangat feminim, roknya pun sangat pendek, "ya Allah.." aku kebingungan, "tolong aku, sembunyikan aku di sini, dia...dia mengejarku!" pinta gadis itu, bau alkohol tercium dari mulutnya, dia nampak sangat ketakutan. "Baiklah..baiklah" aku mencoba menenangkannya, sesaat kami saling bertatapan..gadis itu..gadis itu sepertinya kukenal...dia pun mengerutkan dahinya, ada mimik keterkejutan saat melihatku, pertanda dia pun mengenalku. "aku telpon mbak Nadia dulu di kostan cewe, kau tunggu di sini saja" ucapku sambil mengambil handphone dan berlalu keluar dari kamar.

*******

Tujuh tahun kemudian...

Rasanya belum lama ku tertidur, harus bangun lagi, semalaman aku bekerja menyelesaikan tulisanku, sepertinya secangkir kopi akan menyegarkanku, aku hendak keluar tapi seorang wanita mencegatku di pintu kamar, wanita berambut panjang dengan daster panjang menutupi tubuhnya, aku sempat terkesima dan lagi-lagi "heiii, kenapa menatapku seperti itu, sudah waktunya mengantar Faqih ke sekolah, ingat sudah janji mengantarnya kali ini" serunya. Oh aku lupa, segera ku berlalu ke kamar mandi, "minum kopinya dulu" wanita itu tersenyum, dan Faqih sudah menantiku sejak tadi. Kuraih kunci motor jaket, sebelum pergi masih kupandangi wanita di teras rumahku, kali ini dia mengenakan jilbabnya, kubalas lambaian tangannya, Annisa, istriku.

----------

Suwawa, 29082010

Irosa

Jumat, 27 Agustus 2010

Siapa Yang Kau sebut Cinta

Tet..tet..tet...Handphone Nabil berdering, pertanda ada sms yang masuk. Zulfa yang sedang dalam kamar, meraih hp itu, berniat akan menyerahkannya pada Nabil suaminya. Langkahnya terhenti sejenak, tertulis di layar Hp --sms dari Adinda--. "Siapa ya?" tanyanya dalam hati. Nabil segera menerima Hp itu setelah Zulfa memberitahukan ada sms yang masuk. Nabil segera menelepon, "Aku lagi siap-siap neh, kau tunggu saja di tempat biasa oke", Nabil menutup pembicaraannya dengan senyuman, pergi meninggalkan Zulfa yang menyimpan tanya dalam hati.

-------------------------

Tet..tet..tet...Handphone itu berbunyi lagi, lagi-lagi sms dari Adinda, "siapa seh?"pikirannya berkecamuk. Dan lagi-lagi, Nabil begitu girang saat membaca sms itu, bersegera berpakaian rapi dan meninggalkan Zulfa satu kecupan di kening dengan senyum tersungging "Abi pergi dulu ya Mi, ada urusan penting, mungkin agak lama pulangnya" Zulfa membalas senyum itu walaupun dengan terpaksa karena masih tetap menyimpan tanya dalam hati "oh ya...kalau sampai jam dua sore Abi tak pulang, pergi ke pasarnya sama adikmu aja ya, Abi sudah hubungi dia tadi"..."lama dong pulangnya Bi, tapi masih berbuka di sini kan?" tanya Zulfa, Nabil tersenyum, kali ini terlihat begitu tulus "pasti dong Mi" dan Nabil pun berlalu dari hadapannya.

------------------------

Telepon berdering lagi, kali ini telepon dari Adinda, Nabil yang langsung mengangkatnya, terlihat serius pembicaraannya, "Pasti dong, semua demi cinta" tutup Nabil mengakhiri pembicaraan di telepon. "Apa? apa aku tak salah dengar dengan apa yang mas Nabil katakan terakhir, rasanya begitu jelas, nggak mungkin salah dengar" Zulfa mulai merasa tidak nyaman dengan sms dan telepon dari wanita misterius bernama Adinda itu. Malam ini, dia berniat menanyakannya pada mas Nabil, tapi ternyata suaminya mempercepat tidurnya.

-----------------------

"Pagi ini, pasti si Adinda sms atau telepon lagi" pikir Zulfa, diliriknya Nabil yang sedang menyantap sahur dengan lahap, melempar senyuman kala mereka bertemu pandang. Dan ternyata betul dugaan Zulfa, Handphone Nabil berdering lagi, kali ini Zulfa yang mengangkatnya "Assalamu'alaikum, ini siapa ya dan ada perlu apa?? tukas Zulfa, "emm..saya bisa bicara dengan mas Nabil?"jawab suara yang di seberang, Zulfa menyerahkan handphone pada Nabil yang sudah menunggu dengan senyum di sampingnya.

----------------------

-Jadi gimana mas Nabil, suka nggak yang kemaren itu?- Zulfa bergetar membaca sms itu, dia memberanikan diri membaca sms yang ada di handphone mas Nabil,  -kayaknya aku sudah merasa cocok, nanti kita tuntaskan besok- sms mas Nabil pada wanita itu, -nggak nyesel neh???- percakapan di sms itu diakhiri mas Nabil -Kalau Cinta, nggak mungkin nyesel dong :)-, Zulfa tak mampu menahan badannya lagi, dia terduduk di samping tempat tidur, Nabil nampak pulas dalam tidurnya.

---------------------

Zulfa masih terpaku di depan pesawat telepon rumahnya, hatinya campur aduk, Nabil sudah pergi pagi-pagi sekali, lagi-lagi dengan senyum yang paling manis sedunia, meninggalkannya dengan kecupan di kening yang dirasanya hambar. "aku harus kuat" katanya menenangkan diri, dalam genggamannya sudah ada kertas bertuliskan nomor Adinda itu. Air mata menetes di pipinya, tak mampu menahan sedih, mantap menekan angka di pesawat teleponnya. "Halo, selamat pagi, Perumahan Bukit Zaitun Permai, ada yang bisa kami bantu?" Zulfa terdiam, tak mampu berkata-kata lagi.

---------------------

Di tempat lain, Nabil dan Adinda sedang berada di depan sebuah bangunan mewah yang terlihat minimalis, "tepat sekali pilihanmu Dinda, aku yakin istriku pasti akan menyukai rumah pilihanmu ini" sahut Nabil puas, "yah, walaupun mahal dan hampir menguras isi tabungan anda pak Nabil" sambung Adinda, "Tak masalah, demi Cinta, karena aku sangat mencintai Zulfa istriku" senyum Nabil, "besok Abi kan beri kejutan di Milad pernikahan kita Ummi, Abi ingin kembali melihat senyummu"

**************

Gorontalo, 26082010

Irosa

#Berharap dapat hadiah rumah di Milad pernikahanku yang ke empat tgl 09 September nanti, biar boo depe gambar dulu hehehehe#

Sabtu, 14 Agustus 2010

"Transit" Di Rumah Mertua

Enam hari "transit" di rumah Mertua, sungguh sangat mengesankan buatku, semua hari-hariku ingin kubuat mengesankan selalu, enjoy dengan semua yang aku alami, ini aku dan hidupku ^_^


Sederhana, itulah kesan yang selama ini aku rasakan jika berinteraksi dengan keluarga suamiku apalagi tinggal di dalamnya, tidak ada yang berlebihan karena memang tak ada yang bisa dilebih-lebihkan...

Mertuaku, papa Mantu hanyalah petani kebun yang di sela-sela aktifitasnya itu, beliau juga imam di Masjid ujung kampung, mama Mantu juga hanya ibu rumah tangga yang turut membantu suaminya bekerja di kebun, tentu saja mereka tak mengenyam pendidikan setinggi yang kita rasakan, tapi bagiku mereka sudah berhasil mendidik anak-anaknya, membentuk karakter yang baik pada anak-anaknya, menjadikan mereka mandiri dan tangguh.

Selama aku berada di sini, banyak yang berkesan, suamiku bersaudara berkumpul bersama, wow, ceria sekali, sungguh terbangun komunikasi yang sehat antara mereka semuanya, suamiku satu-satunya anak yang PNS, selebihnya tidak tapi mereka adalah anak-anak yang mandiri..

Ramadhan, memang mempererat persaudaraan, terbukti selama aku di kampung, wara wiri ke syukuran keluarga, baik syukuran ipar-iparku, tante-tante dan om-om suamiku (wah jadi iri melihat udah kakek nenek tapi persaudaraannya kental banget, aku pun berharap begitu dengan adik-adikku, amin)

Aku bersyukur jadi bagian dari mereka

Mendono, 11082010

Irosa

Penantian Di Ujung Asa

"Hadi, kau dipanggil sama pak Danu...Ada yang penting katanya!" Seru Baim teman sekamar Hadi dalam kapal tempat mereka bekerja..

Hadi pun pergi, pikirannya tak lagi konsen pada pekerjaannya, "besok, tiba di darat, aku akan menelepon Aida, aku akan pulang memenuhi janjiku untuk berlebaran bersama" senyum tersungging di bibirnya, akhirnya...Setelah dua kali lebaran tak bersama istri dan anak, kali ini, niatannya terkabul. Terbayang sudah lesung pipit Aida dengan senyum manisnya, Azzam yang lagi lucu-lucunya.

"Aida tunggu teleponnya ya mas, hari jumat depan" suara Aida di ujung telepon, dan hari ini kamis, besok jumat turun di darat.

Lamunan Hadi buyar, tak terasa dia sudah ada di depan pintu kamar pak Danu...

Langkah Hadi gontai, setelah keluar dari kamar pak Danu, wajahnya tak lagi cerah seperti sebelum masuk kamar bos bagian mesinnya itu. "Kau tau kan Hadi, Akri sekarang sedang sakit keras, jadi dia tidak bisa menggantikan shiftmu bertugas di kapal, karena hanya kalian berdua yang ahli di bagian itu, mohon pengertiannya ya"

Di sudut kamar berukuran 3 x 3 m itu, Hadi duduk, terpekur, tak menyangka seperti ini akhirnya. "Maafkan aku Aida, maafkan Abi ya Azzam, kali ini tak dapat memenuhi janji lagi"

* * *

Di sebuah rumah mungil, tampak seorang wanita muda duduk memangku seorang bayi laki-laki, sesekali memandang handphone di atas meja, berharap pagi ini mendapat kabar dari kekasih hatinya..

"Tahun ini kita akan berlebaran bersama Abi, Azzam" bisiknya pada bayi tampan itu....

¤ ¤ ¤ ¤

Mendono, 07082010

Ramadhan menjelang, selamat menunaikan ibadah shaum ramadhan..

Mohon maaf lahir batin...

Irosa

Wanita di Stasiun Kereta

Hari ini, seperti biasa, setiap dua minggu sekali aku ke stasiun kereta...

Duduk dengan macho, kukeluarkan koran, kubaca di kursi tunggu, kupikir penampilanku sudah sangat modis..

Kemeja kotak-kotak biru merk terkenal, jeans bermerk, ransel laptop di punggungku, blackberry bold dalam genggamanku, sepatu hitam mengkilat, ditambah topi yang kupakai, ditambah senyum yang selalu mengembang...

Aku merasa terlihat paling tampan dan keren di antara lelaki-lelaki yang ada di stasiun ini, kuperhatikan nyaris tak ada perempuan yang tidak menoleh kepadaku, ehm aku memang penuh pesona...

Kuedarkan pandanganku ke seluruh stasiun...Ups, wanita itu, wanita cantik yang selalu membuat hatiku tergetar memandangnya, sudah sering kuliat dia di stasiun ini..

Kali ini dia memakai kemeja polos tangan pendek warna pink, dipadu padan dengan celana panjang putih, tas putih dijinjingnya, dengan rambut panjang tergerai begitu saja, sesekali dibetulkan rambut yang menutupi sebagian wajahnya...

Beberapa pria memandangnya, melempar senyum walau wanita itu sama sekali tak menggubrisnya, tentu saja mereka kalah pesona denganku...

Aku berdiri, berusaha mendekat ke tempat wanita itu berdiri, tiba-tiba wanita itu melambaikan tangannya, aku terkesiap, kepadaku kah lambaian tangannya, ingin kulambaikan juga tanganku, tapi aku urungkan, gengsi dong...

Seorang lelaki berjaket kumal, masih dengan menggunakan helmnya melewatiku, masih sempat kucium aroma bau tak enak di badannya, berjalan mendekati wanita itu. Wanita cantik pujaan hatiku itu tersenyum manis menyambutnya, tak lama kemudian mereka bergandengan tangan keluar stasiun...

Oh My God...Aku lemas...Tukang ojekkah itu ????

* * * * * * * *

Kapal Ledy Fortuna, 05082010

Kamis, 05 Agustus 2010

Bercermin dari Sakit


Tak terasa sudah hari kamis lagi, berarti sudah seminggu aku keluar dari Rumah Sakit. Yeah, aku terpaksa harus diopname di rumkit karena setelah tes darah ternyata hasilnya aku positif Malaria Vivax stadium dua. Yang lebih disayangkan lagi, putri kecilku juga terkena Malaria yang sama, vivax stadium awal. Rencananya hanya berobat saja, tapi saat nunggu hasil lab, tiba-tiba badan dingin semua, dah dapet lagi tuh yang namanya gejala Malaria, langsung dimasukin di ruang perawatan.

Ya Allah, seumur-umur hidupku (semoga nggak lagi deh masuk rumah sakit karena sakit, amin), aku baru dua kali masuk perawatan rumah sakit, yang pertama waktu ngelahirin Chacha dan yang kedua ya yang barusan masuk seminggu lalu. Terasa sekali betapa tidak mengenakkan berada di rumah sakit, pikiranku selalu teringat Chacha dan rumah. Apalagi lokasi Rumkit yang jauh dari kota Banggai, membuatku tambah nggak semangat lagi berada di rumkit. Aku kasian pada suamiku, yang harus bolak balik ngurusi kami berdua (aku dan Chacha), karena Chacha tidak mau dirawat di rumkit, takut dia melihat jarum infus yang ada di tanganku. Aku berharap waktu itu, semoga suamiku kuat hadapi semua ini, jangan sampai drop staminanya.

Malam pertama di rumkit, Chacha nggak mau tidur di rumah tanpa aku, terpaksa jam delapan malam dilarikan ke rumkit untuk bertemu aku, tidur bersebelahan denganku, sempit-sempitan, sambil tangan yang ada jarum opnamenya kusembunyikan, kasian Chachaku, hasilnya aku semalaman nggak bisa tidur, terus terjaga. Satu persatu, bergantian kupandangi suamiku yang tertidur pulas di tempat tidur sebelah, Chacha yang pulas juga tidurnya dalam dekapanku, dan Sulastri yang setia menemaniku mengurus semua urusan kecil di rumkit, terima kasih ya Allah kau beri mereka kekuatan untuk merawatku yang sakit ini.

Besoknya, aku dah berkeras mau pulang, nggak tahan aku dengan kondisi di rumah sakit, kasian sama suamiku yang harus bolak balik rumah - rumkit, kalau dekat nggak apa-apa, ini jauhnya minta ampun, fotokopi askes hanya 6 lembar harus lari ke kota, makan waktu sekali, akhirnya walaupun sebenarnya dokter belum mengijinkan tapi keputusan dikembalikan pada kami, aku mantap pulang, rindu rumah, rindu tempat tidur di rumah, semoga bisa lebih sehat lagi harapanku.

Sampai di rumah, serasa sakitku berkurang, apalagi bertemu dengan putri kecilku yang kegirangan melihat mamah dan papahnya balik, aku peluk dia sekenceng-kencengnya, rinduuuu sekali sama Chacha, langsung terjun payung di tempat tidurku yang sudah rapi. Tekadku dalam hati "aku harus cepat sembuh, untuk Chacha dan suamiku". Enaknya di rumah, mau apa-apa nggak perlu lama-lama, bisa nonton televisi, bisa internetan hehehehe..., klo di rumah sakit kan nggak bisa begituan, nggak ada signalnya pula, susah komunikasi, jadinya berasa lebih sakit lagi. Than it works...aku merasa benar-benar sehat setelah berada di rumah,panas jadi turun, nggak demam lagi, aku bisa tidur pulas malamnya, Alhamdulillah.

Cermin dari sakitku ini, teringat seorang teman datang menjenguk dan berkata "mungkin ada baiknya kita sakit, sakit punya banyak manfaat, salah satunya adalah menghapuskan dosa-dosa kita, manfaat yang lainnya lagi adalah kita bisa rehat sejenak dari aktifitas kita sehari-hari " aku mengiyakan. Dua minggu terakhir memang aku lagi sibuk-sibuknya, bahkan makan pun nggak terpikir lagi, alhasil selain malaria, diagnosa dokter juga menyatakan aku maag. Pengennya seh turun badan karena kemaren berat badanku agak naik, takut naik-naik terus, akhirnya makan dikurangi, eh malah jadi maag. Sekarang, jadi turun beneran berat badanku, yaaa salah satu cermin dari sakit kemarin hehehehe.

Terakhir, aku terharu, di saat sakit seperti ini, kelihatan banget orang yang peduli padaku, banyak teman-teman yang menjengukku di rumah sakit maupun di rumah, sampai-sampai, segala macam makanan kecil jadi bertumpuk di meja, bahkan ada yang ketika aku sudah keluar dari rumah sakit, masih datang menjenguk, alhasil hanya tempat tidur kosong yang ditemui ^__^. Yang lebih membuatku terharu lagi, ketika teman-teman kantor suamiku menjenguk di rumah, mulai dari pak ketua, pak Waka, dan teman-teman lainnya, rombongan datang ke rumah kami yang kecil, bener-bener bantuan spirit buatku untuk cepat sembuh, saat itu aku berpikir " ini baru istrinya yang sakit udah dijenguk rombongan begini, apalagi kalau suamiku yang sakit ya ". Bener-bener terharu....

Intinya, aku harus banyak bersyukur dengan sakit yang kemarin, teguran buatku yang kadang lalai padaMU,sekarang aku harus banyak istirahat, menggunakan waktu sebaik mungkin, klo kemarin agak ngedrop kerjanya, sekarang harus dibawa santai, makan jalan terus, harus tetap fit, apalagi sudah pernah kena Malaria. Sehat itu terasa sangat menyenangkan ketika kita merasakan sakit.


Banggai, 05 Agustus 2010

Irma

Chacha 3 Years + 17 days


Alhamdulillah...putriku umurnya sudah 3 tahun lebih 17 hari, tentu saja banyak yang telah dilakukannya sesuai perkembangannya, tak perlu melebihi perkembangan normal di usianya setidaknya bisa sama asal jangan mundur hehehehe...

Banyak hal yang terjadi selama tiga tahun perjalanan hidupnya, aku dan suamiku mengikuti perkembangannya selalu, mulai dari Chacha belajar merangkak, pertama kalinya belajar duduk, pertama kalinya bisa berdiri, dan yang tentu saja menegangkan dan menyenangkan ketika melihat putri kecil kita bisa berdiri pertama kali dan berjalan pertama kali. Ooooo itu sungguh pengalaman menyenangkan...bahkan saat-saat membahagiakan itu terekam dalam kameraku, jadi lucu klo dibuka filenya lagi ^___^.

Enam bulan terakhir perkembangannya begitu pesat, banyak kelucuan yang dibuat olehnya, apalagi di saat Chacha sudah bisa menyebut "R" dengan sempurna, rasa-rasanya semua kata diubah menjadi huruf "R" semua (hehehehe). Cha sering merengek ingin masuk TK, kalau keluar tiap lewat TK pasti Cha akan ngomong sambil menunjuk TK "itu sekolahku !!!!". Sayang, selain tempat tinggal dan tempat kerja kami yang agak jauh dari kota, tidak ada yang bisa kami andalkan untuk menjaga Chacha. Sabarlah nak, nanti bunda akan mendidikmu sementara di rumah, sapatau abis lebaran bisa bagi waktu untuk masukkan Chacha di PAUD :)

Satu hal yang selalu aku syukuri, selama tiga tahun ini Chacha tumbuh di bawah asuhan kami, dengan tangan kami dan keringat kami sendiri. Sesibuk-sibuknya kami dalam pekerjaan, secapek-capeknya dalam pekerjaan, aku dan suamiku berusaha memberikan waktu yang memang sudah menjadi hak Chacha untuk dia miliki bersama kedua orang tuanya terutama dengan Bundanya.

Bukan memuji diri sendiri (ya Allah jauhkan aku dari sifat itu), hanya saja sedikit pembelaan bahwa ibu bekerja pun masih tetap punya waktu untuk memantau perkembangan anak-anaknya, aku masih menyuapi Cha makan, memandikannya dan menggantikan dia baju, bergantian seh dengan suami, kalau ke sekolah Cha juga ikut, aku ngajar di depan kelas dia juga ikutan ngajar, spidol,penghapus jadi sasarannya, tapiiii itulah seninya merawat anak tanpa babysitter, dan aku menikmatinya (Suamiku juga pastinya hehehehe), intinya seh kualitas lebih penting daripada kuantitas, sering ketemu dengan kualitas yang tinggi, atau jarang ketemu tapi tetap dengan kualitas yang tinggi, bukan suatu hal yang mustahil...

Chacha...tidak Naif,pasti semua orang tua berharap anaknya tumbuh jadi anak yang cerdas dan sukses, tapi bunda pun berharap yang paling utama kau menjadi anak yang sholehah....

Bunda akan tetap menulis semua perkembangan tentangmu, sampai suatu saat kau bisa membaca tulisan ini, kau akan tau betapa besar cinta Kami padamu putriku ^_^

Banggai, 03 Agustus 2010

Bunda Chacha

Jumat, 04 Juni 2010

WE WILL NOT GO DOWN (Song for Gaza)

(Composed by Michael Heart)

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive


They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze


We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight


Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right


But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze


We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight



Translate song for Gaza (We Will Not Go Down)


Cahaya putih yang membutakan mata
Menyala terang di langit Gaza malam ini
Orang-orang berlarian untuk berlindung
Tanpa tahu apakah mereka masih hidup atau sudah mati

Mereka datang dengan tank dan pesawat
Dengan kobaran api yang merusak
Dan tak ada yang tersisa
Hanya suara yang terdengar di tengah asap tebal

Kami tidak akan menyerah
Di malam hari, tanpa perlawanan
Kalian bisa membakar masjid kami, rumah kami dan sekolah kami
Tapi semangat kami tidak akan pernah mati
Kami tidak akan menyerah
Di Gaza malam ini

Wanita dan anak-anak
Dibunuh dan dibantai tiap malam
Sementara para pemimpin nun jauh di sana
Berdebat tentang siapa yg salah dan benar

Tapi kata-kata mereka sedang dalam kesakitan
Dan bom-bom pun berjatuhan seperti hujan asam
Tapi melalui tetes air mata dan darah serta rasa sakit
Anda masih bisa mendengar suara itu di tengah asap tebal

Kami tidak akan menyerah
Di malam hari, tanpa perlawanan
Kalian bisa membakar masjid kami, rumah kami dan sekolah kami
Tapi semangat kami tidak akan pernah mati
Kami tidak akan menyerah
Di Gaza malam ini.

Semoga Allah SWT, selalu melindungi dan memberi kemenangan terhadap saudara-saudara kita, rakyat palestina dan pejuang mujahidin Hamas di Gaza. Insya Allah. Amin.


Rabu, 02 Juni 2010

Ku Yakin mereka telah Siap untuk Syahid

Dua hari lalu tepatnya hari Senin, 31 Mei 2010 kapal perang Israel dan tentara Israel menyerang kapal Mavi Marmara yang didalamnya terdapat aktivis relawan termasuk 12 orang Warga Negara Indonesia yang berasal dari tiga elemen berbeda yang tentu saja punya niat ikhlas untuk membantu rakyat Palestina di Gaza, membuka blokade Israel sehingga mendapatkan akses untuk kehidupan mereka.

Sungguh sangat menyedihkan dan kemudian menyulut kemarahan siapa saja yang mendengar dan menyaksikan berita tersebut karena akibat dari penyerangan itu puluhan aktivis tewas dan puluhan lainnya luka-luka, tak terkecuali diriku yang tetap setia menunggu perkembangan terbaru dari kejadian ini.

Luapan kemarahan di berbagai negara tak terpungkiri lagi, demo di sana sini, mengecam kebrutalan tentara Israel. Berbagai reaksi diperlihatkan, ada beberapa negara yang langsung memutuskan hubungan diplomatiknya dengan Israel, ada juga yang hanya menyatakan penyesalan terhadap kejadian tersebut, dan berbagai reaksi lainnya baik yang tegas ataupun yang masih malu-malu kucing.

Sungguh pun berbagai reaksi terjadi, tapi aku yakin mereka para aktivis itu sudah siap untuk syahid, mereka pasti telah mempersiapkan diri mereka sebaik mungkin untuk menghadapi kemungkinan terburuk (mungkinkah Syahid jadi kemungkinan terburuk ?? atau malah sebaliknya ???). Jangankan hanya untuk menghadapi penyerangan itu di kapal, tentunya setelah sampai di daratan Gaza, mereka akan dihadapkan dengan hal-hal yang lebih berat dari sekedar penyerangan di kapal (yang mungkin saja tak pernah mereka duga sebelumnya).

Di Gaza...para aktivis (relawan) pastinya akan sering berhadapan dengan senjata api, telinga mereka akan terbiasa dengan dentuman bom, mata mereka akan terbiasa dengan pemandangan yang menyedihkan, kematian ada dimana-mana, tangisan mungkin juga akan mereka dengar walaupun aku yakin tak akan sering karena aku pun yakin mereka (rakyat Gaza) pasti sudah siap untuk menjadi Syahid.

Aku pun yakin...keluarga yang para aktivis tinggalkan sudah siap dengan kemungkinan-kemungkinan di atas, karena mestinya mereka (para aktivis itu) sudah mempersiapkan keluarga mereka dengan bekal ikhlas dan tawakal kalau-kalau sesuatu terjadi pada mereka.

Aku pun berharap, insyaAllah para aktivis itu benar-benar ikhlas niatnya sehingga tak perlu ada pertanyaan " mengapa para aktivis mau dikeluarkan dari penjara? " " mengapa mereka mau dideportasi dari Israel ? Bukankah tujuan mereka kesana adalah untuk memasuki wilayah Israel ? Lalu dimanakah letak perjuangan para aktivis itu sementara sudah ada beberapa nyawa yang jadi korban ?? " Aku berharap pertanyaan-pertanyaan itu hanya sekedar pertanyaan saja, karena aku masih yakin...mereka telah siap untuk Syahid.

Wallahua'lam

*kutulis di saat kumerasakan kegelisahan seorang istri yang menantikan suaminya nun jauh di sana*